PRA PASKAH

Penerimaan abu kepada umat.
RABU ABU

Hari Rabu Abu adalah Hari Penerimaan Abu  kepada umat katolik. Ini merupakan tanda awal masa 40 hari pertobatan menjelang Paskah; atau kita biasa menyebutnya Masa Pra Paskah.

Penggunaan abu sebagai lambang pertobatan (menuju pentahiran/pengudusan) umat beriman dapat dirunut jauh sampai pada masa Perjanjian Lama. Misalnya saja seperti tercatat pada Kitab Bilangan;
"Maka seorang yang tahir haruslah mengumpulkan abu lembu itu dan menaruhnya pada suatu tempat yang tahir di luar tempat perkemahan, supaya semuanya itu tinggal tersimpan bagi umat Israel untuk membuat air pentahiran; itulah penghapus dosa". [ Bil 19:9 ].
Praktek pentahiran atau pengudusan umat dengan menggunakan abu dari korban bakaran seperti itu lazim dilaksanakan pada masa-masa Perjanjian Lama. Misalnya dapat kita temukan dalam bacaan I hari ini [05-Maret-2014]; Kitab Yoel Bab 2, ayat 12-18.


Selanjutnya; pengudusan umat dengan disertai pertobatan, laku puasa dan membalikkan hati kembali kepada Tuhan -- seperti terdapat pada bacaan I; adalah suasana yang mesti kita bangun -- yang dapat secara persis menggambarkan rahmat Tuhan melalui masa Pra Paskah ini kepada kita semua para umat-Nya yang sadar dan rela atas pertobatan itu. Karena pada ujung lain masa pertobatan akan tersedia berkah yang berlimpah dari Tuhan !

Gereja telah menetapkan hari puasa dan pantang; ialah pada Hari Rabu Abu dan Jumat Agung untuk hari puasa dan ditambah pada setiap hari jumat selama masa pra paskah ini sebagai hari berpantang.

Secara singkat, ketentuan puasa adalah makan hanya sekali kenyang pada hari puasa yang telah ditetapkan; sedangkan hal yang dapat dipilih sebagai pantangan pada hari berpantang antara lain; daging, rokok, gula, teh, dan berbagai hiburan yang biasa kita nikmati pada hidup keseharian.

Ketentuan usia wajib puasa adalah antara  18 s/d 60 tahun dan usia wajib pantang adalah mulai umur 14 tahun. Diluar usia tersebut dianjurkan untuk tetap didorong untuk melaksanakan laku puasa dan pantang ini, sepanjang kondisi yang bersangkutan memungkinkan.

Dan yang penting; kewajiban laku puasa dan pantang ini akan lebih pas bila kita terima; terlebih sebagai satu olah rohani, bukan sekedar ritual jasmaniah belaka; agar, sungguh, berkah Tuhan yang berlimpah boleh kita terima nantinya.

Petunjuk Yesus dalam bacaan Injil St. Matius pada hari ini kiranya sangat jelas; mengajarkan bagaimana kita mesti bersikap atas kewajiban-kewajiban keagamaan kita.

Selamat menerima rahmat Tuhan melalui masa Pra Paskah !  



Related Posts: