HARI MINGGU KITAB SUCI NASIONAL

Snapshot halaman pertama Injil Yohanes
dari sebuah Alkitab terbitan LAI tahun 2003

HKSN 2014

Para Bapa Uskup dalam sidang MAWI pada tahun 1977 telah menetapkan hari Minggu pertama pada setiap bulan September sebagai Hari Minggu Kitab Suci Nasional (HKSN).

Hari ini, Minggu 7 September 2014 adalah satu hari yang dimaksudkan itu !

Ada pertanyaan bagus berkait dengan HKSN; Apa pentingnya bagi kita untuk mendalami kitab suci ?


Mendasar

Untuk menjawab pertanyaan itu kiranya kita perlu melihat kembali peristiwa penting dalam gereja katolik, yaitu Konsili Vatikan II. Secara khusus kita akan merujuk sebuah hasil Konsili Vatikan II ini yang berkait dengan kitab suci yaitu Dei Verbum yang dapat dibaca versi bahasa inggrisnya dengan klik di sini atau terjemahan bahasa indonesianya dengan klik di sini.


Dari tautan tersebut dapat kita sarikan beberapa point yang dapat menjawab pertanyaan kita, yaitu;

Pertama, Dalam kebaikan-Nya Allah telah menetapkan, bahwa apa yang diwahyukan-Nya demi keselamatan semua bangsa, harus tetap utuh untuk selamanya dan diteruskan kepada segala keturunannya. Pewartaan injil Tuhan kepada semua orang wajib dilakukan oleh para mutid [ baca Dei Verbum 7 ]. Dan semua pewartaan dalam Gereja seperti juga agama kristiani sendiri harus dipupuk dan diatur oleh Kitab suci yang memuat sabda Allah, yang penuh kehidupan dan kekuatan, yang berkuasa membangun dan mengurniakan warisan diantara semua para kudus [ lihat DV 21].

Kedua, untuk itu, jalan menuju Kitab suci harus terbuka lebar-lebar Bagi kaum beriman kristiani. Dan karena sabda Allah harus tersedia pada segala zaman, Gereja dengan perhatian keibuannya mengusahakan, supaya dibuat terjemahan-terjemahan yang sesuai dan cermat ke dalam pelbagai bahasa, terutama berdasarkan teks asli Kitab suci [ lihat DV 22 ].

Ketiga, Gereja, dengan bimbingan Roh Kudus berusaha memperoleh pengertian yang semakin mendalam tentang Kitab suci, supaya tiada hentinya menyediakan santapan sabda-sabda ilahi bagi para puteranya, untuk menerangi budi, meneguhkan kehendak, dan mengobarkan hati sesama untuk mengasihi Allah [ lihat DV 23 ].

Keempat, dianjurkannya pembacaan kitab suci, supaya dengan sering kali membaca kitab-kitab ilahi memperoleh “pengertian yang mulia akan Yesus Kristus”. Anjuran ini tidak saja bagi para rohaniawan dan imam, yang memang wajib melaksanakannya, tetapi pula bagi umat semuanya. Namun hendaklah diingat, bahwa doa harus menyertai pembacaan Kitab suci, supaya terwujudlah wawancara antara Allah dan manusia. Sebab “kita berbicara dengan-Nya bila berdoa; kita mendengarkan-Nya bila membaca amanat-amanat ilahi” [ lihat DV 25 ].

Maka semoga dengan demikian melalui pembacaan dan studi Kitab suci “sabda Allah berjalan terus dan dimuliakan” (2Tes3:1), perbendaharaan wahyu yang dipercayakan kepada Gereja semakin memenuhi hati orang-orang. Seperti hidup Gereja berkembang karena Umat sering dan dengan rajin menghadiri misteri Ekaristi, begitu pula boleh diharapkan dorongan baru dalam hidup rohani karena sabda Allah yang “tinggal selama-lamanya” (Yes40:8; lih. 1Ptr1:23-2) semakin dihormati.

Terakhir, BKSN bukan lah merupakan satu-satunya waktu yang disarankan untuk mempelajari kitab suci, anggaplah sebagai waktu yang tepat untuk memulainya; entah dalam lingkup keluarga, komunitas, lingkungan, kelompok bahkan teman sepermainan.

Selamat ber BKSN !

 

Related Posts: