SURAT GEMBALA MENYAMBUT HUT KEMERDEKAAN RI KE-71

SATU HATI BAGI BANGSA MEWUJUDKAN PERADABAN KASIH DI INDONESIA
(Surat Gembala Menyambut HUT Kemerdekaan RI Ke-71)
Dibacakan/diterangkan padaHari Raya Santa Perawan Maria diangkat ke surga; Sabtu-Minggu, 13 - 14 Agustus 2016

Saudara-saudariku umat Katolik Keuskupan Agung Semarang, Para Pejuang Senior, Veteran, dan sahabat-sahabat muda yang penuh semangat: SALAM BAHAGIA, karena kasih dan kemerdekaan yang Tuhan berikan bagi kita. SALAM PERJUANGAN untuk kita yang terus berkomitmen setia membangun bangsa dan masyarakat atas dasar cinta yang tulus bagi bangsa dan Tanah Air Indonesia.
Sebentar lagi kita rayakan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-71. Hari syukur karena rahmat Tuhan Yang Mahaesa telah mengaruniakan kemerdekaan bagi Bangsa Indonesia, untuk menentukan perjalanan bangsa. Kemerdekaan sebagai anugerah dari Tuhan ini tentu menjadi sebuah pengalaman yang sangat istimewa dan menggetarkan, terutama bagi para pejuang yang saat ini masih ada bersama kita, atau bagi yang telah gugur.


Hari ini Gereja Katolik juga merayakan Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga. Sebuah ajaran iman Gereja sebagaimana ditegaskan oleh Konsili Vatikan II, “Akhirnya Perawan tak bernoda, yang tidak pernah terkena oleh segala cemar dosa asal sesudah menyelesaikan perjalanan hidupnya di dunia, telah diangkat melalui kemuliaan di surga beserta badan dan jiwanya. Ia telah ditinggikan oleh Tuhan sebagai Ratu alam semesta, supaya secara lebih penuh menyerupai Puteranya, Tuan atas segala tuan, yang telah mengalahkan dosa dan maut” (LG art. 59). Saat ini kita renungkan dua pengajaran dari dua peristiwa besar yakni HUT Kemerdekaan RI ke-71 dan Hari Raya SP Maria diangkat ke Surga.


Maria adalah Figur Perempuan Merdeka.
Saudara-saudariku, Para Pejuang, Para aktivis, dan Kaum muda-remaja dan anak-anak yang saya cintai. Kita menyetujui bahwa Kemuliaan SP Maria sebagaimana dirayakan oleh Gereja, bukan menjadi cita-cita pribadi Bunda Maria. Sebagai seorang pribadi ia tidak pernah menghitung amal dan jasa kehidupannya. Ia juga tidak pernah memikirkan apakah dari tindakan baiknya, kelak akan dimuliakan. Yang dikerjakan oleh Bunda Maria adalah komitmen hidup dalam kebenaran sebagai warga masyarakat. Pujian Magnificat adalah pujian sukacita dan kesadaran bahwa seorang manusia dilibatkan dalam karya agung-Nya. Bunda Maria menjadi figur wanita yang penuh perjuangan, sebagai perempuan muda dan nantinya sebagai ibu rumah tangga, sekaligus anggota masyarakat yang peduli. Ia menerima tawaran ketika disampaikan ajakan bekerjasama dengan Allah melalui Malaikat Gabriel dengan menjawab, “Jadilah padaku menurut perkataan-Mu” (Luk 1:38). Ia menjadi bagian dari perjuangan keselamatan manusia dengan mengambil bagian dalam gerak perjuangan Yesus Puteranya meneladankan kehidupan yang baik dan benar. Dari Betlehem, Mesir, Nasareth sampai ke Puncak Golgota, Bunda Maria ikut serta sebagai perempuan pengawal perjuangan kemerdekaan sejati. Dialah pribadi yang ikut menjadi saksi dan pendamping perjuangan keselamatan manusia. Bunda Maria juga menjadi Ibu dan pendamping tumbuhnya sekelompok kecil orang yang menemukan kehidupan baru. Hidup dan kiprahnya digerakkan oleh bimbingan Roh Kudus dalam perjalanan Gereja awal. Gereja Katolik yakin bahwa Bunda Maria menjadi pendoa dan pejuang bagi umat yang mengimani dan menerima perjuangan Puteranya untuk memerdekakan hidup dari belenggu dosa.


Bangsa Indonesia mengalami hambatan kemerdekaan sejati karena berbagai persoalan.
Saudari-saudara terkasih, kita menyadari bahwa persoalan bangsa masih sedemikian banyak dan belum bisa diurai tuntas. Selain persoalan ekonomi, politik, tenaga kerja, pendidikan, kesehatan, lingkungan hidup, pembangunan daerah-daerah pinggiran, ada persoalan moralitas kehidupan dan kemanusiaan. Kasus-kasus korupsi, kemiskinan, ketidakadilan, kekerasan terhadap perempuan dan anak, pornografi, perdagangan manusia, narkoba dan ketidaksetiaan dalam rumahtangga, masih terus terjadi.


ARDAS KAS ke 7 mengajak mewujudkan cita-cita melalui: peningkatan peran dan keterlibatan kaum awam dalam gerakan sosial, budaya, ekonomi, politik dan pelestarian lingkungan dengan semangat pembelajaran, kejujuran, dan kerjasama yang didukung dengan transparansi dan akuntabilitas dalam tata kelola paroki dan lembaga-lembaga karya serta peningkatan spiritualitas dan profesionalitas para pelayan pastoral. Bagaimana kita mewujudkan upaya-upaya itu?
Langkah-langkah Inklusif, Inovatif dan Transformatif.


Tindakan-tindakan konkret untuk mendukung dan mengembangkan rasa nasionalisme dan kecintaan pada Tanah Air perlu disusun, diagendakan secara terencana dan terukur:


Pertama, Soal kesejahteraan rakyat. Mewujudkan pemerintahan yang bersih dan bebas korupsi, berlaku adil dan benar dalam membuat regulasi kebijakan dan pengadilan, serta mengentaskan mereka yang miskin, perlu menjadi penegasan setiap pribadi. Umat Katolik melalui keterlibatan nyata, ikut mengawal pembangunan Negara Kesatuan Republik Indonesia.


Kedua, Mengembangkan hidup bermartabat. Moralitas bangsa akan semakin maju bila didukung dengan penghargaan martabat manusia yang dari generasi ke generasi perlu diajarkan. Tindakan-tindakan yang merendahkan martabat pribadi perlu diganti dengan menghormati setiap pribadi dimulai dari habitus baik di dalam keluarga serta lingkungan sekitar. Reksa pastoral di paroki-paroki perlu mengintegrasikan “logika pastoral belaskasih” melalui tiga upaya yakni menuntun, menegaskan dan mengintegrasikan (anjuran apostolik Paus Fransiskus tentang KELUARGA ‘Amoris Laetitia, 19 Maret 2016).


Ketiga, Menyatakan semangat iman kepada Allah yang satu. Komitmen ini perlu terwujud berawal dari semangat Bhinneka Tunggal Ika, kita kokohkan Indonesia yang SATU. SATU hati, SATU bahasa, SATU pengharapan, SATU Tuhan yang Esa bagi semua, meski berbeda agama, ras dan suku budaya, namun kita adalah umat yang satu dan sama di hadapan Allah yang Esa. Penghayatan akan kesatuan ini bisa didukung dalam beberapa gerakan, seperti halnya gerakan tekun mendoakan bangsa dan negara, baik secara pribadi/perorangan, keluarga, kelompok/wilayah/stasi, paroki. Dapat juga secara bersama-sama dengan Gereja-gereja Kristen dalam gerakan oekumenis, melakukan doabersama bagi bangsa. Doa itu hendaknya terus kita panjatkan setiap tanggal 17 dalam bulan selama 9 kali (semacam novena), mulai 17 Agustus 2016 sampai 17 April 2017 sebagai ujub doa bersama bagi Bangsa dan Tanah Air tercinta. Rumusan sederhana dapat diambil dalam teks “Doa untuk Tanah Air” dalam Buku Puji Syukur nomor 194. Dapat juga didoakan “Doa untuk Masyarakat”, dari Madah Bakti No. 50.


Keempat, Menjadi warga negara yang terlibat. Memasuki tahun 2017, akan diwarnai dengan Pemilihan Kepala Daerah (PILKADA) di beberapa Kabupaten dan Kota di wilayah Jawa Tengah dan DIY. Hendaknya umat Katolik ikut berproses mewujudnyatakan perubahan, pembaruan dan kemajuan dengan mendampingi dan mengawal perjalanan PILKADA agar berjalan dalam rel kebenaran. Keberanian ikut terlibat dalam tugas Penyelenggaraan PILKADA di setiap tingkatannya, maupun sebagai Pengawas dalam Bawaslu akan menghasilkan produk PILKADA yang bermutu. Saya berharap umat Katolik KAS akan dapat menjadi pemilih yang cerdas dan aktif terlibat di dalam prosesnya.


Kelima, Mengisi setiap momentum dengan kegiatan positif. Diharapkan dalam bulan kemerdekaan sekaligus sebagai Bulan Ajaran Sosial Gereja (ASG) ini, menjadi kesempatan untuk kiprah kebangsaan serta berkegiatan bersama masyarakat. Kegiatan seperti upacara bendera, tirakatan kemerdekaan, dialog atau sarasehan kebangsaan, ataupun tindakan sosial kemasyarakatan lainnya. Kegiatan yang kreatif dan melibatkan, tentu akan memberikan daya ubah yang berguna bagi bangsa dan negara.

DIRGAHAYU NEGERI INDONESIAKU dan SELURUH RAKYAT YANG MENCINTAINYA. Kemerdekaan menjadi milikmu, pencinta kemerdekaan yang sejati. Tuhan senantiasa memberkati. BERKAH DALEM.

Semarang, 8 Agustus 2016
Dalam Kesatuan dengan Kolegium Konsultor KAS
Salam, doa dan berkah Dalem

FX. Sukendar Wignyosumarta, Pr
Administrator Diosesan KAS.

Related Posts: