PAROKI SANTA MARIA ASSUMPTA KLATEN
hidup adalah anugerah, panggilan dan perutusan
JL. ANDALAS NO. 24 KLATEN 57413 JAWA-TENGAH INDONESIA
Telp.: (0272) 321 866 Fax.: (0272) 327 710 Email : gmaklaten@yahoo.co.id
Lalu kata Maria: " Jiwaku memulia- kan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya.
Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar ke- padaku dan nama-Nya adalah kudus.
Dan rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia.
Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hati-nya;
Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah;
Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang kaya pergi dengan tangan hampa;
Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya, seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya."
( Lukas 1 : 46 - 55 )
SANTA PELINDUNG : BUNDA MARIA YANG DIANGKAT KE SORGA
kanak-kanak Yesus
Foto: komsosgma
"Maria diangkat ke Surga" merupakan peristiwa iman. Melalui perayaan-Nya oleh Gereja, kita diajak merenungkan perbuatan besar yang dikerjakan Allah bagi Maria, Bunda Kristus dan Bunda seluruh umat beriman.
Kita percaya bahwa Maria telah dipilih Allah sejak awal mula untuk menjadi Bunda Putera-Nya, Yesus Kristus. Untuk itu Allah menghindarkannya dari noda dosa asal dan mengangkatnya jauh di atas para malaekat dan orang-orang kudus.
Dalam putera Maria, Allah telah menolong kita menurut janji-Nya kepada Abraham dan keturunannya. Sebab Kristus telah mengalahkan dosa dan kematian, dan Ia berjaya mulia di hadapan takhta Allah, Demikian pula setiap orang yang bersatu dengan Kristus akan dibangkitkan dari alam maut dan berjaya bersama Kristus.
Dalam Maria harapan ini telah dipenuhi, sebab dialah yang paling dekat pada Kristus. Ia bangkit kedalam kemuliaan abadi dengan jiwa-raganya, dan maut tidak lagi berkuasa atas dia.
Gereja percaya bahwa Allah mengangkat Maria ke Surga dengan jiwa dan badan, karena peranannya yang luar biasa dalam karya penyelamatan dan penebusan Kristus. Kebenaran iman ini dimaklumkan sebagai dogma dalam Konstitusi Apostolik Munificentissimus Deus oleh Sri Paus Pius XII (1939-1958) pada tanggal 1 November 1950. Maklumat ini dapat dipandang sebagai mahkota perkembangan devosi dan teologi seputar masalah ini.
Dalam Konstitusi Apostolik itu, Sri Paus menyatakan : "Kami memaklumkan, menyatakan, dan menentukannya menjadi suatu dogma wahyu Illahi: bahwa Bunda Allah yang tak bernoda, Perawan Maria, setelah menyelesaikan hidupnya di dunia ini, diangkat dengan badan dan jiwa ke dalam kemuliaan surgawi".
Dogma ini pada hakekatnya bertumpu pada iman umat sejak dahulu kala, bukannya pada satu teks Alkitab tertentu.
Diantara tahun 1849-1950, Vatikan dikirimi banyak sekali permohonan dari segala penjuru dunia agar kepercayaan akan Maria Diangkat Ke Surga diumumkan secara resmi sebagai dogma. Pada tanggal 1 Mei 1946, Paus Pius XII (1939-1958) mengirim kepada para Uskup sedunia Ensiklik Deiparae Virginis; di dalamnya Paus menanyakan kepada para uskup sedunia sejauh manakah mereka setuju agar dogma itu benar-benar dimaklumkan. Jawaban para Uskup hampir senada, yaitu positif-setuju ! Paus bertitik tolak dari persatuan mesra antara Maria dengan Yesus, Puteranya, khususnya semasa Yesus masih kecil.
Persatuan ini diyakini sebagai tidak mungkin tidak diteruskan selama-lamanya; tidak mungkin Maria yang melahirkan Yesus dapat terpisah dari Yesus secara fisik. Selaku Puteranya, Yesus tentu menghormati ibuNya, bukan hanya BapaNya.
Tanda-tanda pertama Ibadat kepada Santa Maria Diangkat Ke Surga, ditemukan oleh para ahli di kota Yerusalem dalam masa awal Gereja Kristen. Pesta Maria Diangkat Ke Surga sudah populer sekali di kalangan Gereja Timur pada abad VIII. Konsili Vatikan II berbicara juga tentang Dogma Maria Diangkat Ke Surga. Konsili mengatakan : "Akhirnya sesudah menyelesaikan jalan kehidupannya yang fana, Perawan Tak Tercela, yang senantiasa kebal terhadap semua noda dosa asal, diangkat ke kejayaan surgawi dengan badan dan jiwanya" (LG. No. 59). Di dalam Lumen Gentium No. 68 tertulis : " Bunda Yesus telah dimuliakan di surga dengan badan dan jiwa, dan menjadi citra serta awal penyempurnaan Gereja di masa datang." Yesus yang sungguh Allah dan sungguh Manusia sekarang bertakhta di surga sebagai Raja yang kepadaNya telah diserahkan segala kekuasaan di surga dan di dunia.
Dan Maria, IbuNya yang menyertai Dia dengan setia dalam seluruh karyaNya di tengah-tengah manusia kini bertakhta juga di surga sebagai Ratu Surgawi, yang mendoakan kita dihadapan PuteraNya dan menolong kita dalam semua kedukaan kita.
Di dalam Yesus dan Maria, keluhuran martabat manusia tampak dengan cemerlang. Kecemerlangan martabat manusia itu bukan terutama karena keagungan manusia di antara ciptaan lainnya, melainkan terutama karena karya penebusan Yesus Kristus, Putera Maria, dan persatuan mesra denganNya.
Kita ini masih mengembara di dunia, masih pada perjalanan menuju surga. Namun kita penuh harapan melihat tanda besar yang diberikan kepada kita dalam Maria. Kita pun akan berjaya seperti Maria, asal saja kita tetap bersatu dengan Kristus.
Di dalam Kidung Pujian Maria (Magnificat) yang kita dengar dalam bacaan Injil Lukas 1 : 46 - 55, merupakan madah sukacita, dimana kebencian dikalahkan cintakasih, dimana Tuhan mau mengagungkan kaum kecil dan papa, dan di mana Tuhan menunjukkan belas kasih-Nya sepanjang masa.
Pengangkatan Maria ke Surga dengan badan dan jiwa menunjukkan juga kepada kita betapa tingginya nilai tubuh manusia di hadapan Allah karena penebusan Kristus dan persatuan erat mesra dengan-Nya. Oleh penebusan dan persatuan itu, tubuh kita tidak sehina tubuh hewan karena sudah dikuduskan oleh Kristus.
Oleh karena itu sudah sepantasnya kita menghormati tubuh kita dan tubuh orang lain.
Sehubungan dengan itu, biasanya kita berdoa :
" Bunda Maria yang tak bernoda, murnikanlah badanku dan kuduskanlah jiwaku ! ".
Yustinus Agus Purwadi, Pr.
dari : Buku Kenangan 85 Tahun Paroki Santa Maria Assumpta Klaten, 2008