SEJARAH SINGKAT

BENIH AWAL 

Pada tahun 1909, Rama Van Lith SJ berkunjung ke SD Ngepos yang merupakan satu-satunya sekolah di Klaten saat itu. Beberapa murid menerima tawaran Rama Van Lith untuk belajar di Muntilan. Mereka itu antara lain Rustam, Ramelan (alm. Rama Josowiharjo, SJ), Mikun, Radjiman, Sutedjo, Sukardja dan lain-lain. Inilah benih-benih awal tumbuhnya Gereja Katolik pribumi di Klaten. Pencarian benih ini dilakukan Rama Van Lith secara rutin pada awal tahun dengan mendatangi SD Ngepos. Sejak itulah dimulai kegiatan katekese dan pewartaan di Klaten. Pelajaran agama dilaksanakan di kediaman Bp. Sutadikrama, Sikenong.

Pada masa itu umat hanya merayakan Ekaristi tiga bulan sekali oleh Rama C. Stiphout SJ dari Ambarawa, didampingi oleh Vitus Saiman, pemuda dari Blateran. Setelah beberapa waktu ada tambahan gembala yaitu Rama H. Van Driessche SJ. Misa kudus saat itu di kediaman seorang Belanda: Tuan Yongenelen di Nurlalen. Kemudian dibangunlah gereja kecil di Kauman yang menampung sekitar 30 orang.

Pada tahun 1920 pelajaran agama pindah dari rumah Bp. Sutadikrama ke rumah Bp. Wignyamarwata, dialah yang kemudian dibaptis dan menjadi guru agama pertama di Klaten. Melihat suburnya benih di Klaten, Rama Van Lith berusaha mendirikan Sekolah HIS (Sekolah Belanda setingkat SD). Setelah melalui proses agak lama akhirnya berdirilah HIS dan tahun 1922 mulai ditempati. Kepala sekolah pertama Tuan Lamers dan tahun 1923 diganti oleh tuan Slabbekoom. Gedung ini kelak menjadi SD Kanisius Sidowayah dan menjadi perintis berdirinya kompleks Gereja Paroki Klaten.

DARI STASI KE PAROKI
 
Status wilayah Klaten sendiri pada awalnya merupakan stasi dari Paroki Ambarawa. Ketika Rama C. Stiphout SJ pindah ke Solo pada tgl 15 Oktober 1918 menjadi Pastor Paroki Purbayan, Klaten pun berubah status menjadi salah satu stasi dari Paroki Solo. Saat itu gembala yang bergantian mengunjungi Klaten yaitu Rama Janssen SJ, Rama Van Driessche SJ dan Rama C. Lucas SJ. Rama Lucas inilah yang pertama kali secara resmi ditunjuk untuk menggembalakan umat Katolik di Stasi K1aten. Umat makin berkembang, maka kemudian dibangunlah sebuah gereja paroki di samping gedung HIS. Gereja ini diberkati pada tanggal 12 Agustus 1922 dengan nama pelindung Beata Maria Virgo a Sacratissimo Sacramento (Perawan Suci Maria dari Sakramen Mahakudus).

Pada tanggal 8 Agustus 1923 Stasi Klaten dinaikkan statusnya menjadi Paroki Klaten, dengan Rama C. Lucas SJ sebagai pastor Paroki pertama hingga 29 Januari 1926. Berhubung daerahnya luas, maka Rama Paroki dibantu oleh katekis-katekis awam antara lain: Bp. RVS. Bratasutedja, Bp. A. Dwidjasubrata, Bp. Atmasumarta, Bp. Tjakraatmadja, Bp. Atmasurip, Bp. Jatmasubagya, Bp. Mangunsuwarna dan Bp. Pudjaatmadja. Karena para katekis ini bertugas di daerah-­daerah yang jauh, maka mereka berangkat bersama dari pastoran naik mobil atau kereta kuda dan diturunkan di daerahnya masing-masing. Pada tahun 1934 Bp. S. Suhardja masuk di Pastoran Klaten dan menjadi tangan kanan Rama J.S. Versteegh SJ merangkap sebagai koster serta kusir Pastoran.


PAROKI KLATEN DALAM SEJARAH BANGSA

a. Masa Jepang
Saat Jepang masuk kota Klaten, semua gereja, pastoran dll harus tutup untuk sementara, peralatan penting dipindahkan ke Sikenong, sedang Rama Hagdoren SJ diamankan pemerintah Jepang. Maka semua kegiatan kerohanian dan ibadat menjadi kacau. Oleh karena Paroki K1aten menjadi daerah Keuskupan Semarang (dahulu Vikaris Apostolik) maka Uskup pertama Mgr. A. Soegijapranata SJ terpaksa turun tangan, beliau mendatangi seluruh stasi Klaten dan membangkitkan semangat umat dan untuk menenangkan umat didatangkan pastor Jepang, Koide SJ.

b. Masa Clash ke II
Pada tanggal 19 Desember 1948 meletus clash yang dilancarkan oleh tentara Belanda dan terjadi pendudukan Belanda, maka kekacauan kembali menimpa gereja dan Sekolah Katolik. Karena gereja dan pastoran diduduki tentara Belanda, maka Rama Paroki Klaten terpaksa pindah ke Nglinggi, gereja darurat bertempat di rumah Bp. Hardjasuwita, kebayan Nglinggi. Sedangkan Rama A.P. Poerwadihardja dan Br. Tirtasumarta menempati rumah di sebelah gereja serumah dengan Dr. Letkol Wonojuda. Setelah adanya penyerahan kedaulatan, maka gereja dan Pastoran digunakan seperti sediakala.

c. Masa G30S PKI
Meletusnya gerakan 30 September 1965 berimbas pada umat Katolik di Klaten. Waktu itu Rama Paroki adalah Rama L. Van Woerkens SJ. Pada waktu itu ada desas-desus bahwa gereja akan dibakar, maka umat Katolik membentuk Organisasi Penjaga Gereja dengan nama "Brigade Pengawal Kristus". Pada tanggal 23 Oktober 1965 G 30 S bergerak menebangi pohon di tepi jalan dan situasi makin genting. Oleh karena takut terjadi penculikan rama, maka rama memakai pakaian preman. Masa G30S ber1alu dan umat pun makin berkembang hingga gereja pun terasa kecil, maka setiap hari raya gereja harus dibuka dan ditambahkan tenda serta tempat duduk untuk menampung umat.


PERKEMBANGAN SELANJUTNYA

Di bawah perlindungan Bunda Maria Paroki Klaten berkembang pesat, sehingga dalam perjalanannya muncullah putera baru seperti Paroki Wedi pada tahun 1936, Paroki Delanggu pada tahun 1962, Paroki Jombor pada tahun 1971 dan yang terakhir Paroki Kebonarum pada tahun 1998, yang kemudian disusul Paroki Gondang pada tahun 2005 sebagai hasil pemekaran Paroki Wedi.

Pada tahun 1966 dimulailah pembangunan gedung gereja baru. Panitia dibentuk dan pada tanggal 30 Oktober 1967, Bapak Yustinus Kardinal Darmajuwana melakukan pencangkulan pertama menandai pembangunan gereja baru yang dirancang oleh arsitek Rama JB. Mangunwijaya, Pr. Pembangunan ini diawali dengan dibongkarnya gereja lama yang kemudian digunakan untuk membangun gereja Jombor. Oleh Rama Mangun, ada bagian gereja lama tetap dipertahankan hingga kini, yang merupakan kesinambungan gereja lama dan baru.

Pada tanggal 8 Desember 1968 Bapak Uskup Julius Kardinal Darmajuwana berkenan memberkati gedung baru yang memakai nama Pelindung Maria Assumpta. Sejak saat itulah nama Paroki Klaten berganti dari Beata Virgo a Sacratissimo Sacramento menjadi Paroki Santa Maria Assumpta Klaten. Gedung gereja ini pun menjadi fenomena arsitektur sekaligus fenomena ekspressi rohani, sebuah gedung gereja besar yang menampilkan kesederhanaan, keakraban dan serba keterbukaan.

Umat pun makin berkembang jumlahnya. Pada tahun 1988 jumlah umat mencapai ± 17.500. Pada tahun 1998 Stasi Kebonarum menjadi Paroki baru, dengan jumlah umat 5.480 jiwa, sehingga Paroki Klaten umatnya berkurang dan tinggal ± 12.500.

Sementara itu kualitas iman dan pelayanan ditingkatkan. Pada waktu itu penataan katekis dan pengurus paroki hingga wilayah dan Lingkungan terus dilakukan. Berbagai retret dan rekoleksi umat pun berhasil dilaksanakan, termasuk salah satu program unggulan adalah KKDP (Kunjungan Kekeluargaan Dewan Paroki). Kunjungan ini merupakan sapaan kasih, bukan. kunjungan pendataan apalagi inspeksi mencari umat yang bersalah. Di samping pembinaan umat, berbagai fasilitas pelayanan gereja juga dibenahi, termasuk pembangunan Gedung Panti Paroki dengan dua lantai yang dibangun tahun 1998 dan selesai tahun 2000. Lantai pertama digunakan untuk Sekretariat Pastoran, Sekretariat Dewan, Ruang Rapat dll, sedangkan lantai dua berfungsi sebagai aula serba guna.

Program lain yang dilaksanakan pada periode 2001-­2002 adalah pembuatan jalan lingkar, yang menghubungkan kampung Sidowayah dengan jalan Andaias !ewat samping luar SD Kanisius. Jalan ini menggantikan jalan samping gereja yang secara hukum merupakan bagian halaman gereja bukan jalan umum.

Peristiwa lain yang menunjukkan potensi dan keguyuban umat adalah pertama Peringatan Pesta Intan Paroki Klaten (75 tahun) yang dirayakan dengan Perayaan Ekaristi Agung di lapangan SLTP/ SMK Pangudiluhur tanggal 6 September 1998. Yang kedua adalah Peringatan 80 tahun (10 windu) Paroki Santa Maria Assumpta Klaten yang dibuka pada tanggal10 Agustus 2003. Perayaan ini berangkat selama satu tahun dengan tujuan menggali dan mengembangkan potensi umat yang ada baik dalam bidang rohani dan jasmani, baik dalam bidang sumber daya manusia dan sumber dananya. Peringatan 80 tahun Paroki Klaten ditutup tanggal 15 Agustus 2004 dengan Misa Agung di lapangan SLTP/SMK Pangudi Luhur dengan selebran utama Bp. Uskup Mgr. Ig. Suharyo dan menghadirkan para rama yang pernah berkarya di Paroki Maria Assumpta Klaten, biarawan-biarawati dari Klaten dan seluruh umat se-Paroki Klaten.

Berbagai perkembangan yang mewarnai perjalanan paroki ini pada periode selanjutnya dapat dirasakannya dengan tumbuhnya pemekaran-pemekaran lingkungan dan timbulnya kelompok-kelompok kategorial. Pada tahun 1998 berjumlah 32 lingkungan, tahun 2004 berjumlah 56 lingkungan dan pada akhir tahun 2005 tercatat 59 Iingkungan, sedangkan kelompok kategorial tidak kurang dari 18 kelompok. 




 

Related Posts: