SINAU BARENG : KONVALIDASI PERKAWINAN

KONVALIDASI PERKAWINAN

Rm. Gregorius Kriswanta, Pr.
Paguyuban ketua lingkungan dan ketua wilayah Paroki Santa Maria Assumpta Klaten baru saja mengadakan “SINAU BARENG ROMO KRIS” mengenai konvalidasi perkawinan katolik. Sinau bareng tersebut terlaksana dalam 2x pertemuan yaitu pada tanggal 8 dan 15 September 2019 dimulai pukul 10.00 s/d 13.00 wib. Acara tersebut terselenggara atas dasar banyaknya pertanyaan di lingkungan mengenai permasalahan perkawinan secara katolik. Sebagai nara sumber dalam acara tersebut adalah Romo Gregorius Kriswanta, Pr beliau adalah Pastor Paroki di Gereja Maria Assumpta Klaten yang kebetulan juga sebagai Vikaris Yudisial Keuskupan Agung Semarang. Dalam acara sinau bareng yang difasilitasi oleh paguyuban ketua lingkungan dan ketua wilayah ternyata mendapat respon yang luar biasa dari peserta dengan bukti bahwa peserta yang datang lebih dari 200 orang. Dari para peserta yang handir diantaranya perwakilan dari pengurus dewan harian, ketua lingkungan dan ketua wilayah dan juga ada perwakilan dari umat masing-masing lingkungan.

Dalam pertemuan yang pertama yaitu tanggal 8 September 2019, Rm. Kris fokus dalam menyampaikan materi dasar dan teorinya mengenai konvalidasi perkawinan. 

Yang dimaksud dengan konvalidasi adalah pengesahan perkawinan yang tidak sah dimana tata cara pengesahannya harus mengikuti prosedur yang ditetapkan menurut hukum perkawinan Gereja Katolik. Sahnya perkawinan itu ditentukan oleh 3 hal pokok, yaitu pasangan nikah (subjeknya), kesepakatan antara dua belah pihak (konsensusnya), dan tata cara peneguhannya (formanya). Ada 2 cara besar dalam pengesahan atau yang disebut konvalidasi perkawinan. Cara yang pertama yaitu pengesahan secara biasa (convalidatio simplex) dan cara yang kedua penyembuhan pada akar (sanatio in radice). Yang dimaksud dengan pengesahan secara biasa (convalidatio simplex) adalah mengesahkan perkawinan dengan tata cara dan prosedur yang biasa dilakukan oleh para pastor paroki dalam melayani perkawinan di paroki, sedangkan yang dimaksud dengan penyembuhan pada akar (Sanatio in Radice) adalah perkawinan yang terdahulu disadari adanya cacat atau kekurangan entah berupa materianya, formanya ataupun kesepakatannya bahkan bisa juga dari pihak pejabat Gereja karena kelalaian dalam memenuihi persyaratan hukum. Rm Kris dalam menyampaikan materi mengenai konvalidasi perkawinan sangatlah jelas dan mendetail. Sampai-sampai tidak ada peserta yang pulang duluan sebelum acara tersebut selesai atau dalam bahasa anak muda sering disebut “mbedhol”. Situasi ini menggambarkan bahwa ternyata banyak umat yang tertarik belajar mengenai perkawinan katolik.

Di akhir sesi pada pertemuan yang pertama peserta yang hadir diminta untuk menulis pertanyaan yang berhubungan dengan konvalidasi perkawinan dan pertanyaan tersebut akan di bahas pada pertemuan yang berikutnya.

Sesi tanya-jawab
Pada pertemuan yang kedua yaitu tanggal 15 September 2019 antusias peserta tidak kalah dari pertemuan yang pertama. Dan mengawali pertemuan yang kedua ini Romo sedikit membahas kembali mengenai materi di pertemuan sebelumnya kemudian dilanjutkan dengan menjawab pertanyaan yang sudah di kumpulkan ke panitia dan direkap oleh panitia. Ternyata banyak pertanyaan dari umat mengenai perkawinan katolik yang ada di lingkungan masing-masing. Sungguh kesempatan yang luar biasa bisa belajar mengenai konvalidasi perkawinan. 

Akhirnya tujuan dari pertemuan ini semoga pengurus lingkungan bisa membantu menjawab pertanyaan dari umat yang berhubungan dengan perkawinan katolik. Dan perkawinan yang belum sah secara gereja bisa diberi saran dan diarahkan untuk di sahkan secara gereja.

(Agus-komsosgma)